Alarm Pendidikan SMA 2025: Learning Loss Parah dan Masalah Kurikulum hingga Fasilitas
Fokus Kajian Khusus

Alarm Pendidikan SMA 2025: Learning Loss Parah dan Masalah Kurikulum hingga Fasilitas

Data terbaru mengungkap learning loss parah, kegagalan implementasi Kurikulum Merdeka, dan kesenjangan digital. Simak solusi konkretnya di sini.

Admin

Data TKA 2025 yang dirilis Kemendikbudristek menunjukkan penurunan mencengangkan: rata-rata skor nasional turun 15,2 poin dari tahun 2024, dengan penurunan terparah terjadi pada mata pelajaran Matematika (18,3 poin) dan Fisika (16,8 poin). Ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan alarm darurat bagi sistem pendidikan Indonesia. Analisis ini mengungkap bagaimana dampak pandemi yang belum pulih bertabrakan dengan transformasi kurikulum yang terburu-buru, menciptakan "badai sempurna" bagi pembelajaran siswa SMA.


1. Data 2025: Bukan Hanya Turun, Tapi Jatuh Bebas

1.1. Angka yang Mengguncang

Berdasarkan rilis resmi Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik), Kemendikbudristek pada Januari 2025:

  • Rata-rata nasional TKA 2025: 52,4 (turun dari 67,6 di 2024)
  • Penurunan tertinggi: Provinsi Papua (24,1 poin), diikuti NTT (20,3 poin)
  • Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) menjadi "pembunuh" utama: tingkat kesalahan mencapai 82% untuk soal matematika analitis
  • Hanya 12% siswa yang mencapai kategori "Mahir" pada literasi sains

1.2. Pola yang Mengkhawatirkan

Yang paling mencolok dari data 2025 adalah kesenjangan yang melebar tajam. Sekolah di kota besar dengan akses teknologi dan bimbingan belajar daring masih bertahan, sementara sekolah di daerah dan pinggiran kota mengalami kemerosotan dramatis. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran hibrida pasca-pandemi gagal menjangkau semua siswa secara adil.


2. Tiga Faktor Kunci Penyebab Kemerosotan 2025

2.1. Dampak Pandemi yang "Salah Obat"

Fenomena Learning Loss yang diprediksi kini menjadi nyata. Siswa kelas 12 tahun 2025 adalah generasi yang mengalami masa kritis SMP-nya (kelas 9-10) saat pandemi. Menurut studi PISA 2024 yang baru dirilis Desember lalu, Indonesia termasuk negara dengan learning loss terparah di Asia Tenggara.

Masalahnya: Remedial dan program pemulihan seperti Kurikulum Darurat hanya bersifat parsial dan tidak menyentuh akar masalah. "Kami seperti membangun lantai tiga, sementara fondasi lantai satu dan dua masih berlubang," ucap Doni Koesoema A., pakar pendidikan, dalam wawancara dengan Kompas (17 Januari 2025).

2.2. Kurikulum Merdeka: Transformasi atau Tuntutan Berlebihan?

  • Implementasi "Setengah Hati": Survei PGRI terhadap 5.000 guru SMA (Desember 2024) menunjukkan 68% guru merasa tidak siap mengajar Kurikulum Merdeka tetapi dipaksa untuk mengimplementasikannya secara penuh.
  • Fokus Projek Mengabaikan Fondasi: "Siswa sibuk membuat projek climate change, tapi tidak paham dasar stoikiometri kimia untuk menghitung emisi," kritik Prof. Iwan Pranoto (Institut Teknologi Bandung) dalam seminar nasional pendidikan, Januari 2025.
  • Asesmen Formatif yang Tidak Berkualitas: Banyak guru kesulitan membuat asesmen diagnostik yang akurat, sehingga miskonsepsi siswa terbawa hingga kelas 12.

2.3. Digitalisasi yang Memperlebar Kesenjangan

  • Platform Overload: Siswa dan guru kewalahan dengan 5-7 platform berbeda (Google Classroom, LMS sekolah, Rumah Belajar, Quizizz, dll.) tanpa integrasi yang jelas.
  • AI sebagai "Kruk": Riset kecil Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada November 2024 menemukan 34% siswa mengaku mengandalkan AI (ChatGPT, Gemini) untuk mengerjakan tugas esai dan proyek, tanpa memahami konsep dasarnya.
  • Infrastruktur Jeblok: Laporan Katadata Insight Center (2024) menyebut hanya 42% sekolah di luar Jawa memiliki bandwidth internet memadai untuk pembelajaran digital interaktif.

3. Solusi Konkret 2025: Darurat, Tapi Harus Tepat Sasaran

3.1. Intervensi Berbasis Data Sekolah

  • Asesmen Diagnostik Nasional Mendesak: Sebelum tahun ajaran baru, perlu full diagnostic test untuk seluruh siswa kelas 11 untuk memetakan learning loss per anak.
  • Modul Remedial Spesifik: Pusat kurikulum harus menyediakan modul "kejar ketertinggalan" untuk 3 mata pelajaran inti yang berbeda untuk 4 level kemampuan (bukan one-size-fits-all).

3.2. Guru sebagai Ujung Tombak Pemulihan

  • Stop Pelatihan Umum! Alihkan anggaran pelatihan ke coaching clinic intensif 1 guru 1 mentor untuk penguasaan konsep mata pelajaran yang "anjlok".
  • Komunitas Praktisi: Dorong guru matematika/fisika dari sekolah dengan hasil TKA baik menjadi traveling teacher atau mentor online bagi guru di daerah terpencil.

3.3. Teknologi yang Memberdayakan, Bukan Membebani

  • Pemanfaatan platform digital sekolah dengan standar kualitas: Penggunaan platform digital bisa menjadi bumerang bagi sekolah. Kebanyakan siswa komplain karena platform digital tidak mampu memenuhi kebutuhan belajar mereka. Permasalahan kualitas fitur yang lambat memproses data, tampilan tidak responsif, dan tidak user-friendly menjadi permasalahan utama.
  • AI untuk Guru, Bukan Pengganti Guru: Kembangkan alat bantu AI lokal yang bisa membantu guru membuat soal latihan HOTS dan menganalisis kesalahan siswa, bukan alat yang langsung digunakan siswa untuk menghindari proses berpikir.
  • Internet Pendidikan Gratis: Kolaborasi dengan operator seluler untuk paket data khusus pendidikan yang benar-benar bisa diakses untuk streaming video pembelajaran berkualitas.

Kesimpulan: 2025, Titik Balik atau Awal Kemunduran?

Hasil TKA 2025 harus menjadi titik balik kebijakan pendidikan, bukan sekadar statistik tahunan yang lalu. Kita tidak bisa lagi menyelesaikan masalah 2025 dengan solusi 2019. Dibutuhkan keberanian untuk melakukan reset: mengakui bahwa beberapa aspek transformasi terlalu dipaksakan, bahwa digitalisasi tanpa infrastruktur adalah bencana, dan bahwa pemulihan pasca-pandemi membutuhkan fokus yang lebih tajam pada penguatan fondasi akademik.

"Krisis TKA 2025 adalah cermin dari krisis kepercayaan: siswa tidak percaya mereka mampu, guru tidak percaya mereka disiapkan, sistem tidak percaya pada datanya sendiri," tulis Najelaa Shihab dalam kolomnya di Media Indonesia (20 Januari 2025). Saatnya membangun kepercayaan itu kembali, dimulai dari mengakui betapa parahnya masalah ini, lalu bergerak dengan solusi yang berani dan tepat sasaran.


Referensi Terkini (2024-2025)

  1. Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek. (Januari 2025). *Rilis Pers Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) SMA Tahun 2024/2025*.
  2. OECD. (Desember 2024). PISA 2024 Results: Learning Recovery and Resilience.
  3. PGRI. (Desember 2024). Survei Kesiapan Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Fase E (SMA).
  4. Katadata Insight Center. (November 2024). Infrastruktur Digital Pendidikan Indonesia: Kesenjangan antara Jawa dan Luar Jawa.
  5. Kompas.com. (17 Januari 2025). TKA 2025 Anjlok, Pakar: Ini Akumulasi Learning Loss dan Kurikulum Tergesa.
  6. Media Indonesia. (20 Januari 2025). Krisis TKA dan Darurat Kepercayaan dalam Pendidikan (Kolom Najelaa Shihab).
  7. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). (November 2024). Preliminary Research: Penggunaan AI dalam Pengerjaan Tugas Akademik Siswa SMA.